uburan seadanya itu digali kembali. Keluarganya masih bisa
mengenali jenazah gadis yang terkubur itu dari konde dan giginya yang
cacat. Kemeja dan celana panjangnya yang lusuh tercabik masih bisa
dikenali. Gadis itu memang dikenal suka berpakaian seperti laki-laki
ketika bergerilya. Kepergian gadis itu sungguh memukul penghuni rumah di
jalan Ali Malaka 20 (dulu bernama Tweede Zeestraat) Makassar.
 |
| Pantai Losari Makassar, tak jauh dari rumah Emmy Saelan. |
Rumah duka itu letaknya kira-kira sekitar 2 km dari Pantai Losari yang
terkenal dengan sunset-nya yang indah. Pemilik rumah itu, Amin Saelan
seorang tokoh pejuang dan tokoh Taman Siswa Makassar, harus menerima
kenyataan pahit. Putrinya yang manis dan berkulit putih, Emmy Saelan
telah gugur dalam pertempuran di hutan di luar kota Makassar. Sebagai
catatan, Amin Saelan, ayah Emmy di jaman revolusi adalah juga penasehat
organisasi Pemuda Nasional Indonesia di Makassar yang diketuai oleh
Manai Sophiaan (ayah aktor Sophan Sophiaan). Dengan dikelilingi oleh
atmosfir para pejuang di sekitarnya, sedikit banyak turut memotivasi
kepahlawanan Emmy.
 |
| Emmy Saelan |
Emmy Saelan adalah pejuang wanita berdarah Sulawesi Utara. Di jaman
Jepang dia bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit Katolik “Stella Maris”
Makassar. Dia juga pernah ikut aksi pemogokan Stella Maris karena
protes terhadap penangkapan Sam Ratulangi, Gubernur Sulawesi ketika itu.
Tahun 1946 Sam Ratulangi oleh Belanda ketika itu diasingkan ke Serui,
Irian Jaya.
Emmy adalah salah satu potret pejuang muda jebolan SMP Nasional di kota
Makassar. Sekolah yang sampai sekarang masih berdiri di jalan Dr. Sam
Ratulangi Makassar ini, patut dikenang sebagai salah satu monumen
sejarah. Karena di masa lalu sekolah ini banyak menelurkan tokoh pejuang
republik. Letaknya di sekitar belakang stadion Mattoanging.
Ketika agresi militer kedua Belanda, para pelajar sekolah itu bersatu
membentuk laskar perjuangan dan bergerilya. Mereka itu, di antaranya
Emmy Saelan sendiri, Robert Wolter Mongisidi dan Maulwi Saelan, adik
Emmy. Juga masih banyak beberapa nama lain. Maulwi Saelan di kemudian
hari dikenal sebagai pengawal pribadi Bung Karno (resimen Tjakrabirawa)
dan mantan kiper PSSI. Adik Emmy yang lain, Elly Saelan kemudian juga
dikenal publik dengan nama Elly Yusuf, istri Jendral M. Yusuf, mantan
Menhankam Pangab.
Selain sebagai sekolah yang menghasilkan alumni pahlawan terkenal
seperti Emmy Saelan, Maulwi Saelan dan Mongisidi, sekolah ini juga
pernah menjadi tempat persembunyian dan markas pejuang. Sebagai catatan,
di SMP Nasional ini pula Mongisidi bersembunyi dan ditangkap Belanda
pada suatu malam, tanggal 28 Februari 1947. Ketika ditangkap, langsung
tangannya diborgol dan kakinya dirantai.
|
|
SMP Nasional Makassar sekarang. Dulu markas perjuangan Emmy Saelan dan Wolter Mongisidi.
(Foto: Julius Sandhi) |
Sejak kedatangan Kapten Westerling ke Makassar, ruang gerak anak-anak pejuang di SMP Nasional tadi semakin sempit. (
Tentang Westerling, baca artikel saya “Tembak Bung Karno, Rugi 30 Sen”).
Penangkapan besar-besaran di seluruh kota berlangsung intensif. Cara
penangkapannya kali ini tidak main-main. Siapa yang tidak kenal
kekejaman Westerling? Pasukan Westerling memang sengaja didatangkan dari
Belanda, dengan misinya yang pertama. Yaitu penumpasan pemberontakan di
Sulawesi Selatan. Soalnya pemberontakan di daerah itu sudah begitu
memusingkan pihak Belanda, yang akhirnya mendapatkan solusinya. Yaitu,
mendatangkan Kapten Westerling yang bengis dan kejam.
Sebelum kedatangan Westerling, murid-murid SMP Nasional Makassar masih
bisa belajar dengan baik. Tapi sejak kedatangan Westerling, sekolah itu
terpaksa ditutup. Pasalnya, Belanda sudah mencium sekolah itu sebagai
sarang ekstrimis. Pelajar SMP itu umumnya banyak yang berusia “matang”
yang seharusnya usia mereka tergolong usia pelajar SMA ke atas. Tapi
karena di jaman Jepang mereka tidak bisa bersekolah layak, terpaksa
mereka harus mengejar ketinggalan di SMP Nasional, karena ketika itu
belum ada SMA Nasional di Makassar.
SMP Nasional itu memang didirikan tahun 1945 oleh tokoh-tokoh pejuang di
Makassar yang tidak setuju dengan rencana akan dibukanya sekolah NICA.
Guru-guru yang mengajar di kala itu adalah para tokoh republik.
Suntikan pendidikan politik dari para tokoh republik mengobarkan
semangat pelajar-pelajar SMP Nasional itu. Karena itu mereka lalu
membentuk laskar pejuang yang bernama Harimau Indonesia. Anggotanya
antara lain Emmy Saelan, Maulwi Saelan dan Robert Wolter Mongisidi yang
menjabat sebagai kepala staf.
Robert Wolter Mongisidi ketika itu terkenal dengan kenekatannya dan
keberaniannya. Misalnya melempari granat dan menyerang markas Belanda
hingga kocar-kacir. Belum terhitung memblokade jalan, meledakkan
jembatan, merebut senjata, memutuskan komunikasi dan menyebarkan pamflet
yang berisi seruan pada Belanda untuk segera menyerah. Selain menembaki
kamp-kamp Belanda, mereka juga berani menembaki rumah-rumah pembesar
Belanda.
Belanda yang sudah kewalahan menghadapi teror tanpa henti itu, akhirnya
memutuskan mendatangkan pasukan khusus langsung dari Belanda di bawah
pimpinan Kapten Westerling. Pasukan Harimau Indonesia ketika itu memang
bikin pusing Belanda. Misalnya Mongisidi melucuti tentara Belanda yang
sedang berpatroli. Merampas mobilnya, senjatanya, bahkan seragam tentara
itu juga dilucuti hingga tinggal pakaian dalam. Dengan seragam rampasan
itu Wolter dan pasukannya menyaru sebagai tentara KNIL, mendatangi
markas KNIL dan menembaki markas itu tanpa ampun. Jalan tempat Mongisidi
melucuti tentara Belanda, hingga kini diberi nama jalan Wolter
Mongisidi.
Peran Emmy di laskar Harimau Indonesia yaitu memimpin laskar wanita,
sekaligus bertugas di palang merah. Karena kulitnya yang putih, dia
mendapat nama sandi DaƩng KƩbo' (membaca huruf Ʃ seperti huruf Ʃ pada
kata “bĆ©da”). DaĆ©ng adalah panggilan sapaan di Makassar, kira-kira sama
artinya kalau menyapa dengan kata “Kak”.
Anggota laskar lainnya mengenang, bagaimana Emmy menentukan aturan
menggunakan sandi untuk mengenal sesama pejuang. Misalnya jika dia
memegang rambut dan orang yang ditemui juga memegang rambut, maka
artinya orang itu adalah sesama teman pejuang.
Takdir tak dapat ditolak. Tengah malam, di hutan kampung Kassi-Kassi di
luar kota Makassar, tanggal 23 Januari 1947 adalah akhir hidup Emmy.
Ketika itu Emmy yang memimpin 40 orang sekaligus memimpin palang merah,
terjebak dalam pertempuran. Pertempuran itu dikoordinasi Robert Wolter
Mongisidi, yang kala itu sedang berada di kampung Tidung, tak jauh,
namun terpisah dari lokasi Emmy. Karena terkepung dengan pasukan tank
Belanda dan dihujani tembakan, Mongisidi memerintahkan anak buahnya
untuk mundur.
Di saat yang sama di lokasi terpisah, Emmy yang juga membawa
korban-korban luka, berusaha mundur. Tapi sudah terlambat. Kepungan
begitu ketat. Persenjataan musuh jauh lebih kuat. Tak ada lagi ruang
gerak bagi pejuang-pejuang muda yang bersenjata seadanya itu.
Emmy semakin terdesak dan terkepung. Tentara Belanda berteriak padanya
untuk segera menyerah. Teman Emmy semua sudah gugur tertembak. Tinggal
Emmy sendiri yang masih hidup. Perintah untuk menyerah tak digubris
Emmy. Sebagai jawaban, dilemparkannya granat ke pasukan Belanda itu.
Sejumlah tentara Belanda tewas karenanya. Namun Emmy juga akhirnya gugur
oleh ledakan granatnya sendiri.
Jenazahnya kemudian dikuburkan oleh Belanda saat itu juga langsung di
lokasi kejadian. Sesudah situasi pulih, jenazah itu digali kembali dan
dipindahkan ke Taman Makan Pahlawan Panaikang. Di sana dia dimakamkan
secara layak dengan penghormatan besar.
 |
| Monumen Emmy Saelan, lokasi gugurnya Emmy, dulu masih hutan |
Untuk mengenang kepahlawanannya, jalan yang sering dilalui Emmy ketika
bergerilya dinamakan jalan Emmy Saelan. Letaknya tidak jauh dari rumah
dinas Gubernur Sulawesi Selatan di jalan Sam Ratulangi Makassar.
Pernah diusulkan untuk membangun patung Emmy. Namun usul itu ditolak
keluarga karena bertentangan dengan keyakinan agama yang dianut. Sebagai
gantinya, di lokasi gugurnya Emmy dibangun Monumen Emmy Saelan. Monumen
ini terletak di kota Makassar di jalan Toddopuli. Sayang sekali keadaan
monumen ini sekarang menyedihkan dan tak terawat. Hiasan monumen
seperti Garuda Pancasila tampak telah rusak, seperti dicabut paksa.
Rumput-rumput ilalang di sekitarnya tumbuh liar meninggi.
Ketika masih duduk di bangku SD, saya ingat ketika itu diwajibkan guru
menghafal semua nama pahlawan wanita dari berbagai daerah. Emmy Saelan,
Tjoet Njak Dien, Dewi Sartika, Kartini, Tjoet Njak Meutia, Christina
Martha Tiahahu, Rasuna Said, Maria Walanda Maramis dan nama lainnya.
Sesudah itu semua nama tadi dihubungkan dengan tema emansipasi,
kesetaraan antara wanita dan pria. Lalu semua nama-nama tadi disebut
“pahlawan wanita”. Kedengaran emansipatif. Namun tanpa disadari,
penggunaan kata “wanita” di belakang kata pahlawan justru bagai
antithese emansipasi.
Bandingkan saja jika pahlawan itu pria, tidak disebut “pahlawan pria” (S
eolah artinya, wajar saja kalau pria itu pahlawan, namanya juga pria).
Jika polisi itu pria, tidak disebut polisi pria. Jika pengusaha itu
pria, tidak disebut pria pengusaha. Jika pelukis itu pria, tidak disebut
pelukis pria.... kecuali pria itu hanya melulu melukis wanita, barulah
dia disebut “pelukis wanita” (?).
Pengkotakan kata “wanita” seperti pahlawan wanita, polisi wanita, wanita
pengusaha, wanita pelukis tentu tidak dimaksudkan sebagai emansipasi
lip-service. Rasanya kaum wanita sendiri tidak cengeng menuntut
embel-embel kata “wanita” untuk kepahlawanan kaumnya. Kalaupun ada yang
harus dituntut, maka itu adalah gugatan ketika jejak kepahlawanan (baik
moril maupun materil) ditelantarkan, dilecehkan, dicurigai, dikecilkan,
tidak dihargai, tidak dilestarikan dan tidak dirawat dengan baik.
Tanpa bermaksud melupakan spirit dan nilai kepahlawanan para tokoh, saya
pikir kepahlawanan tidak relevan dihubungkan dengan issue gender.
Idealisme apapun yang diperjuangkan seorang pahlawan, entah
memperjuangkan hak wanita, entah rela berkorban demi tanah air,
pahlawan adalah pahlawan. Tidak perduli wanita atau pria.
Nilai heroisme Emmy sama gagahnya dengan heroisme Mongisidi. Mongisidi
disebut pahlawan. Emmy juga disebut pahlawan....tanpa perlu melekatkan
embel-embel kata “wanita” di belakang kata pahlawan.