Cari Blog Ini

Memuat...

Kamis, 10 Mei 2012

EMMY SAELAN

uburan seadanya itu digali kembali. Keluarganya masih bisa mengenali jenazah gadis yang terkubur itu dari konde dan giginya yang cacat.  Kemeja dan celana panjangnya yang lusuh tercabik masih bisa dikenali. Gadis itu memang dikenal suka berpakaian seperti laki-laki ketika bergerilya. Kepergian gadis itu sungguh memukul penghuni rumah di jalan Ali Malaka 20 (dulu bernama Tweede Zeestraat) Makassar.
Pantai Losari Makassar, tak jauh dari rumah Emmy Saelan.

 
Rumah duka itu letaknya kira-kira sekitar 2 km dari Pantai Losari yang terkenal dengan sunset-nya yang indah. Pemilik rumah itu, Amin Saelan seorang tokoh pejuang dan tokoh Taman Siswa Makassar, harus menerima kenyataan pahit. Putrinya yang manis dan berkulit putih, Emmy Saelan telah gugur dalam pertempuran di hutan di luar kota Makassar. Sebagai catatan, Amin Saelan, ayah Emmy di jaman revolusi adalah juga penasehat organisasi Pemuda Nasional Indonesia di Makassar yang diketuai oleh  Manai Sophiaan (ayah aktor Sophan Sophiaan). Dengan dikelilingi oleh atmosfir para pejuang di sekitarnya, sedikit banyak turut memotivasi kepahlawanan Emmy.


Emmy Saelan
                            
Emmy Saelan adalah pejuang wanita berdarah Sulawesi Utara. Di jaman Jepang dia bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit Katolik “Stella Maris” Makassar. Dia juga pernah ikut aksi pemogokan Stella Maris karena protes terhadap penangkapan Sam Ratulangi, Gubernur Sulawesi ketika itu. Tahun 1946 Sam Ratulangi oleh Belanda ketika itu diasingkan ke Serui, Irian Jaya.

Emmy adalah salah satu  potret pejuang muda jebolan SMP Nasional di kota Makassar. Sekolah yang sampai sekarang masih berdiri di jalan Dr. Sam Ratulangi Makassar ini, patut dikenang sebagai salah satu monumen sejarah. Karena di masa lalu sekolah ini banyak menelurkan tokoh pejuang republik. Letaknya di sekitar belakang stadion Mattoanging.

Ketika agresi militer kedua Belanda, para pelajar sekolah itu bersatu  membentuk laskar perjuangan dan bergerilya. Mereka itu, di antaranya Emmy Saelan sendiri, Robert Wolter Mongisidi dan Maulwi Saelan, adik Emmy. Juga masih banyak beberapa nama lain. Maulwi Saelan di kemudian hari dikenal sebagai pengawal pribadi Bung Karno (resimen Tjakrabirawa) dan mantan kiper PSSI.  Adik Emmy yang lain, Elly Saelan kemudian juga dikenal publik dengan nama Elly Yusuf, istri Jendral M. Yusuf, mantan Menhankam Pangab.

Selain sebagai sekolah yang menghasilkan alumni pahlawan terkenal seperti Emmy Saelan, Maulwi Saelan dan Mongisidi, sekolah ini juga pernah menjadi tempat persembunyian dan markas pejuang. Sebagai catatan, di SMP Nasional ini pula Mongisidi bersembunyi dan ditangkap Belanda pada suatu malam, tanggal 28 Februari 1947. Ketika ditangkap, langsung tangannya diborgol dan kakinya dirantai.

SMP Nasional Makassar sekarang. Dulu markas perjuangan Emmy Saelan dan Wolter Mongisidi.
(Foto: Julius Sandhi)

Sejak kedatangan Kapten Westerling ke Makassar, ruang gerak anak-anak pejuang di SMP Nasional tadi semakin sempit. (Tentang Westerling, baca artikel saya “Tembak Bung Karno, Rugi 30 Sen”). Penangkapan besar-besaran di seluruh kota berlangsung intensif. Cara penangkapannya kali ini tidak main-main. Siapa yang tidak kenal kekejaman Westerling? Pasukan Westerling memang sengaja didatangkan dari Belanda, dengan misinya yang pertama. Yaitu penumpasan pemberontakan di Sulawesi Selatan. Soalnya pemberontakan di daerah itu sudah begitu memusingkan pihak Belanda, yang akhirnya mendapatkan solusinya. Yaitu, mendatangkan Kapten Westerling yang bengis dan kejam.

Sebelum kedatangan Westerling, murid-murid SMP Nasional Makassar masih bisa belajar dengan baik. Tapi sejak kedatangan Westerling, sekolah itu terpaksa ditutup. Pasalnya, Belanda sudah mencium sekolah itu sebagai sarang ekstrimis. Pelajar SMP itu umumnya banyak yang berusia “matang” yang seharusnya usia mereka  tergolong usia pelajar SMA ke atas. Tapi karena di jaman Jepang mereka tidak bisa bersekolah layak, terpaksa mereka harus mengejar ketinggalan di SMP Nasional, karena ketika itu belum ada SMA Nasional di Makassar.

SMP Nasional itu memang didirikan tahun 1945 oleh tokoh-tokoh pejuang di Makassar yang tidak setuju dengan rencana akan dibukanya sekolah NICA. Guru-guru yang mengajar di kala itu adalah para tokoh republik.

Suntikan pendidikan politik dari para tokoh republik mengobarkan semangat pelajar-pelajar SMP Nasional itu. Karena itu mereka lalu membentuk laskar pejuang yang bernama Harimau Indonesia. Anggotanya antara lain Emmy Saelan, Maulwi Saelan dan Robert Wolter Mongisidi yang menjabat sebagai kepala staf. 

Robert Wolter Mongisidi ketika itu terkenal dengan kenekatannya dan keberaniannya. Misalnya melempari granat dan menyerang markas Belanda hingga kocar-kacir. Belum terhitung memblokade jalan, meledakkan jembatan, merebut senjata, memutuskan komunikasi dan menyebarkan pamflet yang berisi seruan pada Belanda untuk segera menyerah. Selain menembaki kamp-kamp Belanda, mereka juga berani menembaki rumah-rumah pembesar Belanda.

Belanda yang sudah kewalahan menghadapi teror tanpa henti itu, akhirnya memutuskan mendatangkan pasukan khusus langsung dari Belanda di bawah pimpinan Kapten Westerling. Pasukan Harimau Indonesia ketika itu memang bikin pusing Belanda. Misalnya Mongisidi melucuti tentara Belanda yang sedang berpatroli. Merampas mobilnya, senjatanya, bahkan seragam tentara itu juga dilucuti hingga tinggal pakaian dalam. Dengan seragam rampasan itu Wolter dan pasukannya menyaru sebagai tentara KNIL, mendatangi markas KNIL dan menembaki markas itu tanpa ampun. Jalan tempat Mongisidi melucuti tentara Belanda, hingga kini diberi nama jalan Wolter Mongisidi.
 

Peran Emmy di laskar Harimau Indonesia yaitu memimpin laskar wanita, sekaligus bertugas di palang merah. Karena kulitnya yang putih, dia mendapat nama sandi Daéng Kébo'  (membaca huruf é seperti huruf é  pada kata “béda”). Daéng adalah panggilan sapaan di Makassar, kira-kira sama artinya kalau menyapa dengan kata “Kak”.

Anggota laskar lainnya mengenang, bagaimana Emmy menentukan aturan menggunakan sandi untuk mengenal sesama pejuang. Misalnya jika dia memegang rambut dan orang yang ditemui juga memegang rambut, maka artinya orang itu adalah sesama teman pejuang.  

Takdir tak dapat ditolak. Tengah malam, di hutan kampung Kassi-Kassi di luar kota Makassar, tanggal 23 Januari 1947 adalah akhir hidup Emmy.

Ketika itu Emmy yang memimpin 40 orang sekaligus memimpin palang merah, terjebak dalam pertempuran. Pertempuran itu dikoordinasi Robert Wolter Mongisidi, yang kala itu sedang berada di kampung Tidung, tak jauh, namun terpisah dari lokasi Emmy. Karena terkepung dengan pasukan tank Belanda dan dihujani tembakan, Mongisidi memerintahkan anak buahnya untuk mundur.

Di saat yang sama di lokasi terpisah, Emmy yang juga membawa korban-korban luka, berusaha mundur. Tapi sudah terlambat. Kepungan begitu ketat. Persenjataan musuh jauh lebih kuat. Tak ada lagi ruang gerak bagi pejuang-pejuang muda yang bersenjata seadanya itu.

Emmy semakin terdesak dan terkepung. Tentara Belanda berteriak padanya untuk segera menyerah.  Teman Emmy semua sudah gugur tertembak. Tinggal Emmy sendiri yang masih hidup. Perintah untuk menyerah tak digubris Emmy. Sebagai jawaban, dilemparkannya granat ke pasukan Belanda itu. Sejumlah tentara Belanda tewas karenanya. Namun Emmy juga akhirnya gugur oleh ledakan granatnya sendiri. 

Jenazahnya kemudian dikuburkan oleh Belanda saat itu juga langsung di lokasi kejadian. Sesudah situasi pulih, jenazah itu digali kembali dan dipindahkan ke Taman Makan Pahlawan Panaikang. Di sana dia dimakamkan secara layak dengan penghormatan besar.

Monumen Emmy Saelan, lokasi gugurnya Emmy, dulu masih hutan
                        

Untuk mengenang kepahlawanannya, jalan yang sering dilalui Emmy ketika bergerilya dinamakan jalan Emmy Saelan. Letaknya tidak jauh dari rumah dinas Gubernur Sulawesi Selatan di jalan Sam Ratulangi Makassar.

Pernah diusulkan untuk membangun patung Emmy. Namun usul itu ditolak keluarga karena bertentangan dengan keyakinan agama yang dianut. Sebagai gantinya, di lokasi gugurnya Emmy dibangun Monumen Emmy Saelan. Monumen ini terletak di kota Makassar di jalan Toddopuli. Sayang sekali keadaan monumen ini sekarang menyedihkan dan tak terawat. Hiasan monumen seperti Garuda Pancasila tampak telah rusak, seperti dicabut paksa.  Rumput-rumput ilalang di sekitarnya tumbuh liar meninggi.

Ketika masih duduk di bangku SD, saya ingat ketika itu diwajibkan guru menghafal semua nama  pahlawan wanita dari berbagai daerah. Emmy Saelan, Tjoet Njak Dien, Dewi Sartika, Kartini, Tjoet Njak Meutia, Christina Martha Tiahahu, Rasuna Said, Maria Walanda Maramis dan nama lainnya.


 


Sesudah itu semua nama tadi dihubungkan dengan tema emansipasi, kesetaraan antara wanita dan pria. Lalu semua nama-nama tadi disebut “pahlawan wanita”. Kedengaran emansipatif. Namun tanpa disadari, penggunaan kata “wanita” di belakang kata pahlawan justru bagai antithese emansipasi.
Bandingkan saja jika pahlawan itu pria, tidak disebut “pahlawan pria” (Seolah artinya, wajar saja kalau pria itu pahlawan, namanya juga pria). Jika polisi itu pria, tidak disebut polisi pria. Jika pengusaha itu pria, tidak disebut pria pengusaha. Jika pelukis itu pria, tidak disebut pelukis pria.... kecuali pria itu hanya melulu melukis wanita, barulah dia disebut  “pelukis wanita” (?).

Pengkotakan kata “wanita” seperti pahlawan wanita, polisi wanita, wanita pengusaha, wanita pelukis tentu tidak dimaksudkan sebagai emansipasi lip-service. Rasanya kaum wanita sendiri tidak cengeng menuntut embel-embel kata “wanita” untuk kepahlawanan kaumnya. Kalaupun ada yang harus dituntut, maka itu adalah gugatan ketika jejak kepahlawanan (baik moril maupun materil) ditelantarkan, dilecehkan, dicurigai, dikecilkan, tidak dihargai, tidak dilestarikan dan tidak dirawat dengan baik.

Tanpa bermaksud melupakan spirit dan nilai kepahlawanan para tokoh, saya pikir kepahlawanan tidak relevan dihubungkan dengan issue gender. Idealisme apapun yang diperjuangkan seorang pahlawan, entah memperjuangkan hak wanita, entah rela berkorban  demi tanah air,  pahlawan adalah pahlawan. Tidak perduli wanita atau pria.

Nilai heroisme Emmy sama gagahnya dengan heroisme Mongisidi. Mongisidi disebut pahlawan.   Emmy juga disebut pahlawan....tanpa perlu melekatkan embel-embel kata “wanita” di belakang kata pahlawan.

Tidak ada komentar: