Kamis, 02 Desember 2010

INGIN JADI PENDETA

Seorang laki-laki sedang mengendarai mobilnya ketika tiba-tiba saja mobilnya mogok tepat di depan sebuah biara. Hari sudah gelap dan biara itu berada di sebuah pegunungan. Lelaki itu memutuskan untuk
masuk ke biara untuk meminta pertolongan, maka diketuknya pintu biara dan ia berkata kepada para pendeta yang membukakan pintu
“Maaf. Mobil saya mogok, dan hari sudah malam, apakah saya boleh menginap satu malam saja?”
Para pendeta itu dengan ramah menyambutnya, menyediakan makanan, bahkan memperbaiki mobilnya. Ketika si lelaki itu sudah hampir tertidur, tiba-tiba di dengarnya suara yang sangat aneh.
Keesokan paginya dia bertanya ke para pendeta mengenai suara aneh yang didengarnya semalam. Tapi mereka berkata:
“Maaf kami tidak bisa memberitahukan anda, sebab anda bukan pendeta.”
Si lelaki kecewa, tapi bagaimanapun dia tetap berterima kasih dan kembali meneruskan perjalanannya.
Beberapa tahun kemudian, lelaki yang sama mengalami kejadian yang sama pula, kendaraannya mogok di depan biara yang sama. Para pendeta kembali menyambutnya dengan sangat ramah, menyediakan makanan dan memperbaiki mobilnya, ketika si lelaki hampir tertidur, dia kembali mendengar suara aneh yang sama seperti yang di dengarnya beberapa tahun lalu.
Maka keesokan paginya lelaki itu kembali bertanya pada para pendeta, dan kembali pula pendeta-pendeta itu berkata:
“Maaf kami tidak dapat memberitahukan anda, sebab anda bukan pendeta.”
Si lelaki benar-benar penasaran, lalu dia menjawab
“Okey ….okey saya sudah tidak tahan lagi. Kalau satu-satunya cara untuk tahu suara apa yang saya dengar itu adalah dengan menjadi pendeta. Baiklah, tolong beritahu saya bagaimana caranya menjadi pendeta!”
Salah seorang Pendeta menjawab,
“Kamu harus berkeliling dunia dan sekembalinya, kamu harus bisa memberitahu kami berapa persisnya jumlah daun dan jumlah butiran pasir di bumi ini, jika kamu sudah berhasil mendapatkan jumlah itu, maka kamu akan menjadi pendeta.”
Maka si lelaki itu melaksanakan tugasnya, setelah empat puluh lima tahun, dia kembali dan mengetuk pintu biara, dia berkata,
“Saya sudah berkeliling dunia dan telah menghitung sepanjang perjalanan saya, saya juga terus bertanya kepada setiap orang yang saya jumpa, terdapat 145,236,284,232 helai daun dan 231,281,219,999,129,382 butir pasir di bumi ini.”
Para pendeta menjawab:
“Selamat, kamu sekarang adalah seorang pendeta, oleh karena itu kami akan menunjukkan pada kamu jalan menuju suara yang kamu dengar dahulu.”
Para pendeta membimbing lelaki itu ke sebuah pintu kayu, lalu pimpinan pendeta berkata
“Suara itu berasal persis di balik pintu ini”
Si lelaki meraih pegangan pintu, namun ternyata pintu itu terkunci, lalu dia berkata
“Ini lucu, tapi saya lagi tidak ingin bercanda, tolong berikan saya kuncinya…”
Pemimpin pendeta memberikan kunci, lalu lelaki itu membuka pintu.
Dibalik pintu kayu ternyata ada pintu lain. Sebuah pintu batu, kembali si lelaki meminta kunci, pendeta memberikan kunci, dan si lelaki membuka pintu.
Ternyata dibalik pintu batu, masih ada pintu yang lain. Sebuah pintu dari emas, kembali si lelaki meminta kunci, membuka pintu.
Masih belum berakhir. Lelaki itu menemukan pintu yang lain, yaitu yang terbuat dari perak.
Begitu terus yang terjadi. Pintu dari permata.
Pintu dari perunggu.
Pintu tembaga….hingga akhirnya para pendeta berkata:
“Ini adalah kunci terakhir untuk pintu yang terakhir.”
Lelaki itu akhirnya lega setelah lelah dengan penantian. Dibukanya pintu terakhir yang terbuat dari tanah liat, menyentuh pegangan pintu dan terpana luar biasa begitu melihat sumber suara yang telah membuatnya penasaran bertahun-tahun……
Tahukah anda sumber suara tersebut ?
jika ingin tahu……………….



sumber suara itu berasal………..



Turun dikit lagi kebawah ….






Maaf ………….
kami tidak dapat memberitahukan kepada anda, ……..
sebab anda bukan pendeta ! ! !
hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha
yah memang pedih kalau udah baca dengan serius ternyata endingnya begini dan untuk mengobati rasa pedih terpaksa deh mesti bagi-bagi biar sakit hatinya berkurang.

Tidak ada komentar: